Jumat, 05 November 2010

Budaya Sekolah


MEWUJUDKAN SEKOLAH BERKUALITAS MELALUI
PENCIPTAAN  BUDAYA  SEKOLAH

Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh dan tetap eksis. Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan IPTEK dan berlandaskan IMTAQ.


Budaya sekolah (school culture) merupakan kata kunci (key word) yang perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dari para pengelola pendidikan. Budaya sekolah perlu dibangun berdasarkan kekuatan karakteristik budaya lokal masyarakat tempat sekolah itu berada. Budaya sekolah adalah detak jantung sekolah itu sendiri, perumusannya harus dilakukan dengan sebuah komitmen yang jelas dan terukur oleh komunitas sekolah yakni guru, siswa, manajemen sekolah, dan masyarakat.
Untuk membangun atmosfer budaya sekolah yang kondusif, maka ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan budaya sekolah, bagaimana penciptaannya, bagaimana peran kepala sekola selaku leader  dalam mendisain budaya sekolahnya, bagaimana budaya sekolah SD Muhammadiyah Sapen dan bagaimana hasil dari budaya sekolah kontribusinya terhadap keberhasilan sekolah baik dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia maupun prestasi sekolahnya.

A. Pengertian Budaya Sekolah
Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata culture. Marvin Harris (1987) mendefinisikan culture atau budaya sebagai serangkaian aturan yang dibuat oleh masyarakat sehingga menjadi milik bersama, dapat diterima oleh masyarakat, dan bertingkah laku sesuai dengan aturan.  Dalam istilah lain, Denis Lawton (1975) mendefinisikan bahwa culture is  everything that exists in a society. Culture includes every thing that is man made : technological artifacts, skills, attitudes, and values.
Secara implisit, kesimpulan dari kedua definisi di atas menyatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai yang telah diterapkan di suatu sekolah merupakan budaya sekolah. Secara eksplisit, Deal dan Peterson (1999) mendefinisikan  budaya sekolah sebagai sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.


B. Penciptaan Budaya Sekolah
Kehidupan selalu berubah. Dalam pertumbuhan dan perkembangan anak mengalami perubahan. Perubahan-perubahan itu dapat terjadi karena pengaruh lingkungan dan pendidikan. Pengaruh lingkungan yang kuat adalah di sekolah karena besar waktunya di sekolah. Sekolah memegang peranan penting dan strategis dalam mengubah, memodifikasi, dan mentransformasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan yang berhubungan dengan kebutuhan anak untuk hidup di masyarakat sesuai dengan tuntutan jamannya.
Studi terhadap sekolah-sekolah yang berhasil atau efektif dapat diperoleh gambaran bahwa mereka mempunyai lima karakteristik umum seperti yang diungkapkan oleh Steven dan Keyle (editor) (1985) sebagai berikut :
a.    Sekolah memiliki budaya sekolah yang kondusif
b.    Adanya harapan antara para guru bahwa semua siswa dapat sukses
c.    Menekankan pengajaran pada penguasaan ketrampilan
d.   Sistem tujuan pengajaran yang jelas bagi pelaksanaan monitoring dan penilaian keberhasilan kelas
e.    Prinsip-prinsip sekolah yang kuat sehingga dapat memelihara kedisiplinan siswa
Penciptaan budaya sekolah dapat dilakukan melalui :
a.         Pemahaman tentang budaya sekolah
b.         Pembiasaan pelaksanaan budaya sekolah
c.         Reward and funishment

C. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Sebuah sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan budaya sekolah yang kondusif. Steven memberi contoh kepemimpinan model master teacher dan model facilitative and catalyc sebagai salah satu alternatif.
Pada model master teacher, kepala sekolah aktif mempersiapkan dan mendemonstrasikan teknik-teknik pengajaran bagi guru-gurunya. Ia juga memanfaatkan waktu beberapa jam waktunya di dalam kelas untuk mengadakan interaksi dengan siswa dan ikut memberikan solusi atas problem-problem pengajaran yang ditemui.
Pada model facilitative and catalytic kepala sekolah mengunjungi kelas hanya sebentar-sebentar saja, sekedar menyampaikan pesan. Ia membuat rencana bersama guru. Jadi kepala sekolah berfungsi memberi rangsangan saja. Rangsangan tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan motivasi guru dalam melaksanakan proses KBM yang efektif dan efisien.
Selain model kepemimpinan tersebut, ada lagi satu model disebut contingency approach. Pada model ini menyatakan bahwa tidak ada satupun model kepemimpinan yang bisa diterapkan secara tetap untuk semua situasi. Pendekatan yang digunakan sewaktu-waktu bisa berubah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan.

D. Budaya Sekolah SD Muhammadiyah Sapen
1. Budaya Disiplin
Dalam kamus Hornby (1957) dijelaskan bahwa Discipline is means training of the mind and character : the exercise, development and control of the mind character, intended to produce obedience and orderly behaviour as school discipline, military discipline. Pengertian yang dimaksud dalam kamus Hornby tersebut adalah disiplin mengandung pengertian latihan pola pikir dan sikap dan latihan-latihan, perkembangan dan kontrol terhadap pola pikir dan sikap bertujuan untuk menghasilkan ketaatan dan perilaku yang teratur sebagai contoh kedisiplinan sekolah dan kedisiplinan militer.
Berkaitan dengan masalah budaya disiplin, SD Muhammadiyah Sapen menerapkan pembiasaan perilaku disiplin yang meliputi disiplin waktu, disiplin PBM dan disiplin dalam berpakaian. Disiplin waktu berkaitan dengan disiplin waktu kedatangan dan kepulangan, waktu penyelenggaraan kegiatan sekolah seperti rapat, pertemuan orangtua, pengajian, dan sebagainya. Disiplin PBM berkaitan dengan pembuatan RPP setiap seminggu sekali, dan disiplin berpakaian berkaitan dengan pakaian yang digunakan guru maupun siswa dan karyawan selama seminggu.

2. Budaya Kerja Keras
Kerja keras atau hard works means with great energy or effort as to try to succeed  (Hornby, 1957). Pengertian kerjasama menurut kamus Hornby tersebut, kerja keras mengandung pengertian bekerja dengan menggunakan tenaga atau usaha yang sangat besar untuk mencapai kesuksesan.
 SD Muhammadiyah Sapen dalam melakukan kerja keras berpijak kepada kandungan QS. arRa'du : 11 yang berbunyi :
إِنَّ اللََّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّي يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, melainkan kaumnya sendiri yang akan merubah nasibnya"

 Beberapa contoh kerja keras yang dilakukan SD Muhammadiyah Sapen memiliki tujuan dalam pencapaian target :
a. Pencapaian target kurikulum
b. Persiapan perangkat pembelajaran
c. Konsultasi prestasi hasil belajar siswa
d. Pembinaan profesionalisme guru




3. Budaya Persaingan
Persaingan mengandung pengertian  : competition means  that the act to take a part in a contest; the act to try something which others also want, the act to try to win (Hornby, 1957). Pengertian persaingan menurut Hornby tersebut adalah upaya untuk mencapai harapan dan upaya untuk meraih kesuksesan.
Dalam memberikan motivasi kepada guru dan siswa untuk meraih kesuksesan,               SD Muhammadiyah Sapen berpegangan kepada QS. aZ-Zumar : 9 sebagai berikut :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَ الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ
"Katakanlah apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu"

               Demikian juga dengan ayat lain, budaya persaingan yang positif sangat dianjurkan :
فَاسْتَبِقُوْا الخَيْرَات
"Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan"
Beberapa contoh yang dilakukan SD Muhammadiyah Sapen dalam menerapkan persaingan baik bagi guru maupun siswa sehingga diharapkan mampu mencapai kesuksesan antara lain :
a. Rekrutmen guru
b. Penilaian profesionalisme guru
c. Promosi dan degradasi kelas
d. Rekrutmen Akselerasi dan CI MIPA

4. Budaya Afektif
Ranah afektif merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari budaya sekolah. Ranah afektif berkaitan dengan sikap dan nilai-nilai yang harus diinternalisasikan ke dalam diri siswa agar terbentuk pribadi yang utama. Menurut Bloom, ranah afektif meliputi tujuan-tujuan yang menjelaskan perubahan-perubahan dalam minat (interest), sikap (attitude), dan perkembangan apresiasi (development of appreciation) serta penyesuaian diri secara tepat (adequate adjustment).
Sikap dan nilai-nilai tersebut didasarkan pada ajaran agama (Islam), sehingga mendidik ranah afektif memiliki pengertian mengembangkan kemampuan sikap dan aplikasi nilai-nilai dalam perilaku sehari-hari siswa sesuai dengan ajaran agama. Dengan pengembangan kemampuan sikap, siswa diharapkan mampu menyesuaikan diri dalam lingkungan pergaulannya sehari-hari dengan menerapkan nilai-nilai ajaran agama secara baik dan benar, sehingga terbentuk kepribadian dan sikap yang baik (akhlaqul Karimah) serta disiplin dalam berbagai hal.
Penerapan budaya afektif di SD Muhammadiyah Sapen dilakukan melalui dua cara, yaitu melalui proses belajar mengajar dan melalui proses interaksi siswa dengan   pendidik   di   lingkungan  sekolah  di  luar  jam  efektif.  Budaya  afektif   di lingkungan SD Muhammadiyah Sapen antara lain : tadarus mandiri, tadarus klasikal, mengucapkan salam ketika masuk ruang kelas dan bertemu guru, teman, orang tua, dan orang lain, mengingatkan langkah kaki ketika naik dan turun tangga, masuk dan keluar kelas, masjid, dan kamar mandi, doa sebelum/sesudah belajar,  sholat  Dhuha berjamaah, shalat Dzuhur berjamaah, dan sebagainya.

5. Budaya Kerjasama (Team Work) :
Keberhasilan yang dicapai sebuah sekolah tidak bisa dilepaskan dari kesadaran kolektif antarkomponen sekolah seperti kepala sekolah, guru, karyawan, murid, dan orangtua dalam mewujudkan kerja sama yang sinergis guna mendukung terselenggaranya kegiatan sekolah. Kerja sama merupakan kunci utama untuk mencapai sebuah kesuksesan dalam konteks institutif.
Bentuk kerja sama (team work) yang dilakukan SD Muhammadiyah Sapen tercermin dalam kegiatan-kegiatan sekolah seperti : penyusunan kurikulum (proter dan silabus), perkemahan (PERKASA), penerimaan siswa didik baru, bakti sosial, program perkembangan prestasi hasil belajar siswa, gathering family, field trip, outbond, rekreasi, ibadah qurban, kegiatan home visit, pameran pendidikan, malam taqarrub, permohonan doa restu, kegiatan silaturahim pasca hari raya, pentas seni, zakat infaq dan shadaqah, PHBI, lomba, dan sebagainya.

6.    Budaya Kepemimpinan (Leadership)
Berpijak kepada kandungan AlQuran yang berbunyi bahwa setiap individu adalah pemimpin, SD Muhammadiyah Sapen melaksanakan budaya kepemimpinan yang diberlakukan baik pada guru maupun siswa-siswinya. Guru adalah seorang manajer yang memiliki tugas memimpin di dalam kelas, dituntut untuk mampu memiliki nilai-nilai kepemimpinan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis siswa didiknya.
Demikian juga halnya dengan anak merupakan generasi masa depan yang akan mengganti tongkat estafet kepemimpinan di masa yang akan datang, harus memiliki nilai-nilai kepemimpinan atau jiwa leadership agar mereka menjadi generasi yang siap untuk menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Penerapan nilai-nilai kepemimpinan atau leadership penting dilakukan guna membiasakan anak-anak dalam memimpin di antara rekan-rekannya.
Model-model budaya kepemimpinan atau leadership yang dilakukan di                          SD Muhammadiyah Sapen antara lain : pendelegasian wewenang dalam struktur organganisasi secara sistematis, efektif dalam berbagai jenjangnya, mulai dari Kepala Sekolah sampai siswa di kelas.    
F. Hasil Budaya Sekolah
Budaya sekolah yang dilaksanakan secara efektif dan efisien akan memberikan hasil yang positif bagi tercapainya visi dan misi sekolah. Cara mengukur yang paling efektif dari budaya sekolah adalah melihat seberapa besar kepercayaan masyarakat  untuk menitipkan anaknya ke sekolah tersebut. Besarnya animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah sangat tergantung dari budaya sekolah yang diterapkan di sekolah yang bersangkutan.
Sebagai misal, animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya ke                               SD Muhammadiyah Sapen dari tahun ke tahun semakin bertambah. Kepercayaan masyarakat terhadap SD Muhammadiyah Sapen tentunya dengan melihat prestasi-prestasi yang telah dicapai oleh guru maupun siswanya baik dalam bidang akademik dan nonakademik. Prestasi-prestasi yang berhasil diperoleh SD Muhammadiyah Sapen sebagai hasil dari budaya sekolahnya adalah sebagai berikut :
1.    Bidang Akademik
a.    Juara Presenter Tingkat Nasional
b.    Juara Sinopsis Tingkat Nasional
c.    Juara Baca puisi Tingkat Nasional
d.   Juara Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional
e.    Juara Olimpiade Matematika Tingkat Nasional
f.     Meraih Nilai UASDA tertinggi se-Propinsi DIY
g.    Raja dan Ratu Buku DIY
h.    Juara MTQ Tingkat Propinsi
i.      Juara Lomba Dongeng Tingkat Propinsi
2.    Bidang Nonakademik
a.    Melukis Tingkat Internasional
b.    Sepatu Roda Tingkat Nasional
c.    Takwondo Tingkat Nasional
d.   Renang Tingkat Nasional
e.    Tenis Lapangan PORDINI Tingkat Regional
f.     Tenis Meja PORDINI Tingkat Regional
g.    Sepakbola Tingkat Propinsi
h.    Juara Favorit Festival Band Pelajar se-Jateng-DIY
Berdasarkan uraian di atas, keberadaan budaya sekolah di dalam sebuah sekolah merupakan urat nadi dari segala aktivitas yang dijalankan warga sekolah mulai dari guru, karyawan, siswa dan orang tua. Budaya sekolah yang didesain secara terstruktur, sistematis, dan tepat sesuai dengan kondisi sosial sekolahnya, pada gilirannya bisa memberikan kontribusi yang positif bagi  peningkatan kualitas sumber daya manusia sekolah dalam menuju sekolah yang berkualitas.

* Makalah ini disampaikan pada Acara Seminar Pendidikan untuk Guru-guru Persyariktan Muhammadiyah se-Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Seninm 16 Juni 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar